Info UMKM Bogor
Diracik Manual Tanpa Blender, Sambal Batak dari Bogor Ini Berhasil Tembus Pasar Nasional
Berawal dari hobi memasak yang diturunkan langsung dari ibunya, Berlian mencoba membuat sambal rumahan tanpa pengawet dengan bahan premium.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Di tengah ramainya tren kuliner yang terus bereksperimen dengan sentuhan modern, Dapur Tomburi hadir dengan pesona yang berbeda.
UMKM rumahan yang berlokasi di sebuah dapur kecil di Komplek Griya Kalisuren, Tajur Halang, Kota Bogor ini justru bertahan dengan cara klasik, menjaga resep keluarga, mengolah sambal sepenuhnya secara manual, dan menghadirkan cita rasa otentik khas Batak.
Dari proses produksi yang presisi tanpa pengawet hingga pengembangan 13 varian sambal, 6 di antaranya menjadi favorit.
Dapur Tomburi tumbuh dari usaha kecil yang lahir di masa pandemi menjadi brand yang mulai dikenal luas.
Perjalanannya membuktikan bahwa ketekunan dan kualitas bisa membawa produk rumahan menembus pasar nasional dan menginspirasi banyak pelaku UMKM lainnya.
Berawal dari Pandemi, Hobi Masak yang Berubah Jadi Sumber Penghasilan
Berlian Christina Siahaan, pemilik Dapur Tomburi, memulai usahanya pada masa pandemi COVID-19.
Berawal dari hobi memasak yang diturunkan langsung dari ibunya, Berlian mencoba membuat sambal rumahan tanpa pengawet dengan bahan premium.
“Dapur Tomburi ini sudah dimulai sejak covid-19, untuk mencari kegiatan yang bisa menghasilkan, karena saya juga hobi memasak, hobi yang datang dari ibu saya pembuat sambal handal,” ujarnya.
Nama Tomburi sendiri berasal dari istilah tombur, sambal khas Batak yang kaya rempah seperti andaliman, jahe, kecombrang, lengkuas, hingga daun jeruk.
Baca juga: Pempek Kikim: UMKM Bogor yang Naik Kelas, dari Rumahan sampai Supply ke Hotel Ternama
“Tomburi itu dari kata tombur, hanya ditambah ‘i’. Semua bahan alam dan rempah masuk ke situ, dan dapur tomburi juga membuat sambal tombur,” jelasnya.
Dari dapur rumahan sederhana inilah perjalanan UMKM ini dimulai.
Sambal Premium Tanpa Pengawet, Dibuat Manual
Salah satu hal paling unik dari Dapur Tomburi adalah proses produksinya. Semua dibuat tanpa mesin, tanpa blender, dan tanpa teknologi penggiling.
Mulai dari menumbuk bumbu, menumis, hingga pengaturan suhu, semuanya dilakukan secara manual.
Teknik produksi di Dapur Tomburi tergolong presisi, suhu minyak 100 derajat, dua kali proses tumis, lalu pengemasan dalam botol kaca panas 80 derajat sebelum direbus kembali selama 30 menit.
“Bahannya ditumbuk dulu, lalu ditumis di suhu yang sama. Tidak menggunakan blender. Botol kaca panas 80 derajat, kemudian direbus 30 menit,” tutur Berlian.
Setiap bahan yang dipakai harus segar, disortir ketat, dan bahkan lumpang yang dipakai untuk menumbuk sambal wajib direndam air mendidih selama 15 menit.
“Tidak boleh ada bahan yang busuk. Lumpang harus direndam air mendidih. Itu untuk menjaga kebersihan,” katanya.
Enam Varian Unggulan, Dari Cumi Pedas hingga Sambal Andaliman
Awalnya Berlian hanya membuat empat varian, sambal bawang, sambal kecombrang, sambal terasi kecombrang, dan sambal andaliman.
Namun permintaan pasar meluas, banyak pelanggan mencari sambal hijau, chili oil, hingga sambal cumi.
Kini Dapur Tomburi sudah menciptakan 13 varian, namun hanya merilis 6 sebagai varian utama demi menjaga kualitas.
“Prinsip saya tidak terburu-buru, harus menguasai dulu semua baru bergeser ke varian lain,” ujar Berlian.
Soal favorit, sambal bawang menjadi primadona sepanjang waktu. Diikuti sambal kecombrang dan andaliman yang punya penggemar tersendiri.
Berlian juga menjelaskan rahasia rasa sambal bawangnya, komposisi 1 kg cabai dan 1 kg bawang Brebes ukuran sedang, tanpa gula berlebihan.
“Manisnya dari bawang, bukan gula, bawang Brebes yang middle lebih wangi dan pedas,” jelasnya.
Harga Terjangkau, Dua Ukuran, dan Menyasar Pasar Edukatif
Dapur Tomburi menyediakan dua ukuran kemasan yang bisa dipilih sesuai keinginan.
Untuk ukuran 150 gram, harganya dibanderol Rp40.000, sementara kemasan 250 gram dijual seharga Rp75.000, menyesuaikan varian yang dipilih.
Baca juga: Sambal BOA Leuwiliang: Dari Dapur Kecil di Pelosok Bogor Jadi Rasa Pedas yang Mendunia
Meski sebagian orang menganggap harganya cukup tinggi, segmen pasar Dapur Tomburi memang menyasar konsumen yang memahami kualitas bahan premium dan produk tanpa pengawet.
“Orang bilang mahal, tapi target pasarnya bukan di sini, tapi di Jakarta atau orang yang teredukasi sambal enak tanpa pengawet,” jelasnya.
Strategi pemasaran Dapur Tomburi sangat sederhana tapi efektif.
Salah satunya dengan memberikan sampel menggunakan sendok, bukan kerupuk, agar rasa asli sambal tidak berubah.
“Dulu pakai kerupuk, tapi rasanya jadi beda. Sekarang pakai sendok, langsung dicicip,” ungkap Berlian.
Selain itu, pemasaran dilakukan melalui media sosial, GoFood, ShopeeFood, dan marketplace lokal sehingga jangkauan pasar semakin luas.
Dan kini pembeli Dapur Tomburi bahkan sudah banyak yang datang dari luar kota.
Produksi dilakukan rutin setiap minggu, disesuaikan dengan permintaan pasar.
Dalam sebulan, Dapur Tomburi menghasilkan ratusan botol sambal dari berbagai varian.
Tantangan terbesar ada pada harga bahan baku seperti cabai dan minyak yang fluktuatif, serta konsistensi rasa.
Namun Berlian tidak mudah menyerah.
“Kita nggak boleh menyerah. Saya ikut pelatihan ekspor, ikut bazar PLN, Astra, seleksi Pertamina sampai tingkat nasional 2024. Walau umur di atas 50, saya nggak takut bersaing,”
Mimpi Lebih Besar, Ekspor Sambal Tomburi ke Luar Negeri
Ke depan, Berlian punya satu mimpi besar, membawa sambal rumahan ini menembus pasar luar negeri.
“Harapannya satu, pengen ekspor. Senang kalau ada challenge untuk maju,” katanya.
Baca juga: Unik Banget! di Bogor Ada Bakso Ikan Rumput Laut yang Bikin Sehat Tapi Harga Murah Meriah
Ia bekerja berdua bersama suaminya, sang suami bertugas bagian pemasaran dan pengemasan, sementara ia fokus di produksi.
Dari dapur sederhana di tengah permukiman Kalisuren, lahirlah sebuah sambal premium yang dibuat dengan sepenuh hati melalui proses manual dan bahan segar tanpa pengawet.
Dapur Tomburi menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa berkembang jauh bila dikerjakan dengan konsistensi, kualitas, dan keberanian mencoba.
Perjalanan Berlian Christina Siahaan bukan hanya cerita tentang sambal, tetapi juga tentang ketekunan, keberanian memulai, dan semangat untuk terus belajar meski usia tidak lagi muda.
Sebuah inspirasi bagi siapa pun yang ingin memulai usaha dari nol, bahwa dapur kecil pun bisa melahirkan rasa mendunia.
(Revani Meiliana/Politeknik Negeri Jakarta)
| Legendaris Sejak 1970, Intip Rahasia Dodol Bojong Indira’f Bogor yang Tetap Legit Tanpa Pengawet |
|
|---|
| Jaga Resep Warisan, Jamu Gendong Putri asal Bogor Laku 1000 Botol Seminggu karena Rempah Alami |
|
|---|
| Sosok Mukhlis Pendiri Rumah Anorganik di Bogor: Ubah Limbah Jadi Cuan, Produknya Sampai ke Hotel |
|
|---|
| LaQuisha PastaNda, UMKM Rumahan di Bogor Tawarkan Menu Pasta Homemade dan Less Sugar |
|
|---|
| UMKM Rasakoe Asal Bogor Sukses Ekspor Bumbu Nusantara, Produksi 15 Ton Setiap Bulan Tanpa Pengawet |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Produk-Dapur-Tomburi.jpg)