Curhatan Pedagang di Pasar Bogor, Berat Pindah ke Jambu Dua karena Sewa Mahal dan Tak Ada Modal

PKL Pasar Bogor dilema karena biaya sewa kios di lokasi relokasi Pasar Jambu Dua dianggap terlalu mahal sementara mereka tak memiliki modal.

Tayang:
Penulis: tsaniyah faidah | Editor: Tsaniyah Faidah
Ist/Pemkot Bogor, TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
PEDAGANG PASAR BOGOR - PKL Pasar Bogor diizinkan berjualan di bahu jalan hingga Lebaran 2026, namun mereka kini dilema karena biaya sewa kios di lokasi relokasi Pasar Jambu Dua dianggap terlalu mahal. 

Pihak Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor mengonfirmasi adanya kesepakatan mengenai batas waktu tersebut.

Direktur PPJ, Jenal Abidin, menyebutkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan tokoh serta perwakilan PKL.

Berdasarkan hasil komunikasi, para pedagang meminta waktu untuk tetap berada di lokasi tersebut hingga Idul Fitri 2026.

“Mereka minta waktu sampai 23 Maret atau sampai lebaran,” ujar Jenal Abidin.

Meski memberikan kelonggaran waktu, PPJ tetap mengimbau agar para pedagang segera bersiap pindah demi keselamatan dan kelancaran pembangunan.

Pasalnya, proses pembongkaran gedung Pasar Bogor saat ini terus berjalan dan ditargetkan rata dengan tanah pada Agustus 2026 mendatang.

Jenal mengkhawatirkan aktivitas perdagangan di bawah gedung yang sedang dibongkar dapat membahayakan pedagang akibat jatuhnya puing-puing bangunan.

Untuk menarik minat 800 PKL yang terdampak, Perumda Pasar menyiapkan berbagai insentif di Pasar Jambu Dua, yang saat ini masih memiliki 900 unit kios dan los kosong.

"Kami dari Perumda Pasar menyiapkan tempat di Pasar Jambu Dua, gratis sewa 3 bulan, diskon harga 20 persen dari PT BAM," jelas Jenal.

Masalah Kebersihan dan Penataan Kawasan

Di sisi lain, persoalan lingkungan menjadi sorotan tajam.

Pada Senin (16/2/2026), Menteri Hanif Faisol Nurofiq sempat menghadiri agenda bersih-bersih Gerakan Indonesia ASRI di Jalan Pedati dan Jalan Roda.

Baca juga: Dilema PKL Pasar Bogor Ogah Pindah ke Jambu Dua, Keluhkan Modal Sewa Meski Ada Diskon 20 Persen

Saat itu, petugas gabungan dari DLH, BPBD, dan Damkar dikerahkan untuk membersihkan sampah serta menyemprot pedestrian agar steril dari kekumuhan.

Namun, hanya berselang dua hari setelah aksi bersih-bersih tersebut, tumpukan sampah kembali terlihat berserakan di lokasi pada Rabu (18/2/2026).

Sampah plastik dan sisa sayuran menumpuk di jalanan akibat tingginya aktivitas belanja warga menjelang Ramadan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved