Sebut Keterlibatan IPB University dalam Program MBG Relevan, Mahasiswa Ingatkan Soal Konsistensi
Pro dan kontra dengan sudut pandang dan pemahaman yang berbeda di kalangan akademisi dalam melihat persoalan tersebut menjadi pembahasan hangat
Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Ardhi Sanjaya
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Rencana pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur untuk program makan bergizi gratis (MBG) di IPB University sedang menjadi sorotan.
Pro dan kontra dengan sudut pandang dan pemahaman yang berbeda di kalangan akademisi dalam melihat persoalan tersebut menjadi pembahasan hangat.
Salah satu mahasiswa IPB University, Muhammad Afif Fahreza menilai keterlibatan IPB University sebagai Center of Excellence dalam program MBG justru sesuatu yang penting dan perlu dilihat secara lebih utuh terlepas dari narasi yang beredar.
Menurutnya, kampus tidak boleh hanya jadi penonton ketika negara sedang menghadapi persoalan besar dan jalan yang keliru, seperti gizi, ketahanan pangan, sampai kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.
Oleh karena itu, kehadiran IPB University melalui PT BLST, holding company milik IPB selaku pengelola dinilai relevan untuk memastikan program berjalan dengan pendekatan ilmiah dan dampak jangka panjang.
"Pembahasannya jangan hanya berhenti pada soal dapur atau angka ekonomi saja, yang sedang dibangun IPB sebenarnya lebih besar dari itu yakni bagaimana menghadirkan tata kelola program pangan yang lebih strategis, berbasis riset, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan," ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Ia menilai model yang dibangun IPB berbeda dengan pola pengelolaan yang hanya berorientasi distribusi makanan, namun juga memperkuat ekosistem pangan secara menyeluruh.
Mulai dari pelibatan petani lokal, penguatan rantai pasok, pengawasan standar gizi, hingga sistem evaluasi berbasis data dan kajian akademik menjadi sistem yang berkelanjutan.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar program MBG tidak sekadar menjadi program jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.
"Saya yakin ada sistem pengawasan berbasis data dan kajian akademik. Artinya MBG ini tidak hanya bicara memberi makan hari ini, tapi juga bagaimana program ini bisa berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar dan kualitas generasi ke depan," katanya.
Sorotan publik yang menilai keterlibatan kampus hanya sebatas kepentingan proyek atau bisnis juga dianggap perlu dilihat secara lebih komprehensif.
Sebab, kata dia, tanpa dukungan akademik, riset, dan inovasi, program sebesar MBG dinilai berisiko memiliki fondasi yang lemah seperti yang terjadi saat ini adanya kasus keracunan makanan hingga pengelolaan yang dinilai serampangan.
"Di situlah peran IPB menjadi relevan, yaitu memastikan kebijakan publik tidak hanya berjalan secara teknis, tapi juga punya basis ilmu pengetahuan dan dampak jangka panjang," katanya.
Di samping itu, ia mengingatkan agar program ini harus on the track sesuai tujuan awal karena ada nama besar akademik, keilmuan dan marwah historis yang harus benar-benar dijaga.
Koko juga meminta agar transparansi tata kelola harus kuat, pengawasan kualitas pangan harus konsisten, dan keterlibatan masyarakat lokal jangan hanya simbolis.
IPB Univeraity juga perlu memastikan bahwa pendekatan ilmiah, riset, dan pengabdian masyarakat tetap menjadi fondasi utama, bukan bergeser hanya menjadi orientasi administratif atau bisnis semata.
"Evaluasi berkala juga penting supaya program ini tidak berhenti di seremonial atau pencapaian jangka pendek saja. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya nama institusi, tapi juga kepercayaan publik terhadap kampus sebagai ruang ilmu pengetahuan yang memang hadir untuk menjawab persoalan bangsa," katanya.
| IPB University Sebut Bakal Bangun SPPG di Ciampea dan Sukajaya, Satu Dapur Sudah Siap Beroperasi |
|
|---|
| Sedang Jadi Sorotan, IPB University Ungkap Alasan Bakal Bangun SPPG untuk Program MBG |
|
|---|
| IPB University Bangun Ekosistem Pangan Lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis |
|
|---|
| Kekeuh Bangun Dapur MBG Meski Ditolak Mahasiswa, Rektor IPB: Sudah Berjalan dari Tahun Lalu |
|
|---|
| Ditolak Mahasiswanya, Rektor IPB University Buka Ruang Dialog Terkait Rencana Pembangunan Dapur MBG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Ipb-dapur-mau-gak.jpg)