Sedang Jadi Sorotan, IPB University Ungkap Alasan Bakal Bangun SPPG untuk Program MBG

Alfian Helmi mengungkapkan, IPB merasa terpanggil sehingga perlu terlibat yakni untuk pengembangan SPPG ke depan.

Tayang:
Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Tsaniyah Faidah
TribunnewsBogor.com
SPPG DI IPB - IPB University ungkap alasan terlibat dalam program MBG dengan membangun SPPG, Senin (21/8/2023). 
Ringkasan Berita:
  • IPB menjelaskan alasan terlibat program MBG karena peduli masalah gizi bangsa, bukan karena instruksi kementerian.
  • IPB ingin memperbaiki tata kelola gizi nasional, mulai dari sanitasi, mutu menu, hingga rantai pasok yang masih rapuh.
  • Program ini menjadi sarana IPB untuk menerapkan hasil riset laboratorium seperti teknologi pengolahan ke skala nyata.

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - IPB University angkat bicara terkait alasan terlibat dalam program makan bergizi gratis (MBG) dengan membangun dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr Alfian Helmi mengungkapkan, IPB merasa terpanggil sehingga perlu terlibat yakni untuk pengembangan SPPG ke depan.

"Jawabannya ada pada kondisi SPPG secara nasional yang masih memerlukan peningkatan tata kelola dan belum semua ekosistem hulu-hilirnya terbangun," ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, ada sejumlah persoalan SPPG di lingkup nasional yang membutuhkan kepedulian institusi pendidikan tinggi sebagai gerbong keilmuan dan kepakaran. 

Dari ribuan SPPG yang terdaftar di Badan Gizi Nasional, kata dia, baru sebagian kecil yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. 

Di samping itu persoalan lainnya yaitu konsistensi mutu gizi, ketergantungan pada rantai pasok yang rapuh, minimnya pengawasan berbasis data, dan lemahnya pemberdayaan komunitas lokal sebagai pemasok.

"Program besar ini sedang berlari, tapi fondasinya masih perlu diperkuat. Di sinilah IPB University merasa terpanggil untuk memberikan kepedulian terhadap persoalan bangsa," katanya. 

Ia pun menekankan bahwa pilihan IPB University untuk bersikap peduli ini, bukan karena alasan ada instruksi dari kementerian.

Akan tetapi, sambungnya, karena kesadaran bahwa persoalan gizi, pangan, dan kualitas sumber daya manusia memang sudah lama menjadi ladang kerja IPB University.

"Kalau kampus dengan kapasitas riset pangan dan agribisnis seperti IPB University hanya jadi penonton, rasanya ada yang tidak beres," katanya.

Selain itu, dengan keterlibatan langsung akan membuka peluang untuk berbuat lebih di ranah yang selama ini sulit dijangkau.

Dengan mengambil peran sebagai SPPG, maka inovasi-inovasi yang lahir dari laboratorium dan kebun percobaan IPB University akhirnya bisa diuji dan diterapkan dalam skala nyata. 

"Varietas pangan lokal unggulan, formula menu berbasis kebutuhan gizi spesifik, teknologi pengolahan pangan sederhana yang efisien, sistem pemantauan mutu berbasis data, semuanya kini punya ruang untuk bergerak dari riset menuju dampak," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved