Hujan Meteor Lyrid Terjadi Malam Ini, Bisa Dilihat di Indonesia

Puncak hujan meteor Lyrid (Lyrida) kembali menyapa langit malam Indonesia pada Kamis (23/4/2026).

Editor: Vivi Febrianti
Ist
Ilustrasi hujan meteor. Puncak hujan meteor Lyrid 2026. 

Sejarah mencatat pada tahun 1803 intensitasnya mencapai 700 meteor/jam, dan pada 1982 mencapai 90 meteor/jam.

Fenomena lonjakan misterius ini diprakirakan akan terulang kembali pada tahun 2042 mendatang. 

Apakah Berbahaya bagi Penerbangan dan Satelit? 

Banyak masyarakat awam yang mengkhawatirkan dampak hujan meteor terhadap transportasi udara. 

Namun, Marufin menegaskan bahwa risiko terhadap lalu lintas pesawat, baik komersial maupun militer, adalah nol.

"Sebab kilatan cahaya dan deposisi material pada hujan meteor terjadi di rentang ketinggian 90 - 60 km dpl. Sedangkan ketinggian jelajah jet komersial umumnya maksimum 15 km dpl. Sehingga masih terlalu jauh," paparnya.

Meski demikian, cerita berbeda berlaku untuk lalu lintas satelit aktif.

Setiap hujan meteor memiliki potensi merusak satelit, meskipun peluangnya sangat kecil. 

Meteoroid berkecepatan tinggi di atas 15 km/detik ini dapat menghantam satelit di orbit rendah hingga geostasioner.

"Setiap hantaman butiran debu hingga pasir pada kecepatan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan terluar satelit, atau menyebabkan tumbling (perubahan sikap/kedudukan) satelit secara mendadak," tambah Marufin.

Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus kerusakan satelit akibat Lyrid, operator satelit tetap waspada setiap kali Bumi melewati jalur debu komet ini.

Satu hal yang pasti, musuh utama bagi para pengamat di Bumi bukanlah meteor tersebut, melainkan cuaca.

"Hujan meteor takkan terlihat ketika langit ditutupi awan, sehingga memang sangat berpengaruh terhadap pengamatan," pungkasnya.

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved