Info Tekno

Jangan Asal Klik! Begini Modus Penipuan Share Screen WhatsApp dan QRIS yang Lagi Viral

Waspada lagi marak kasus penipuan bermodus transfer QRIS via WhatsAp hingga scam lewat fitur Share Screen. Pengguna jangan sampai lengah.

Editor: khairunnisa
freepik
WASPADA PENIPUAN WHATSAPP: Ilustrasi terkait WhatsApp. Waspada lagi marak kasus penipuan bermodus transfer QRIS via WhatsAp hingga scam lewat fitur Share Screen. Pengguna jangan sampai lengah. 

Sebelum scan, sang korban diminta login ke akun mobile banking Mandiri miliknya terlebih dahulu. 

Setelah berhasil masuk ke Mandiri, korban scan barcode tersebut dan muncul nominal sebesar Rp 1.010.000. 

“Terus aku tanya ‘Ini kalau refund berarti kamu kasih ke aku itu sejumlah Rp 1.000.000, apa enggak kebanyakan Mas?’,” ujar korban. 

Pelaku pun menjawab tidak apa-apa dia mengirim uang Rp 1.010.000. 

Nanti, korban tinggal mentransfer balik sebesar Rp 1.000.000. 

“Nah di dalam itu kan kalau scan itu berarti dia kirim kan, terus udah kan. Dari situ aku kok ngerasa aneh, akhirnya aku cek, saldo aku kepotong Rp 1.010.000,” tutur korban. 

Terkait kasus tersebut, Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya menyebut, pelaku menggunakan modus penipuan QRIS Transfer. 

Dia mengungkapkan ada dua metode dalam QRIS, yakni QRIS Bayar dan QRIS Transfer. 

“Bedanya kalau QRIS Bayar, kita scan QRIS dari penjual, bisa QRIS statis (nominal pembayaran bisa diatur) atau QRIS dinamis (nominal sudah tertera dalam pembayaran),” kata dia kepada Kompas.com, Senin (7/7/2025). 

“Kalau QRIS Transfer, kita scan QRIS dari pengguna QRIS yang lain dan akun kita terdebet (langsung). Terdebet artinya akun kita ditarik dananya,” sambungnya. 

Alfons mengimbau agar masyarakat bisa lebih berhati-hati setiap kali melakukan transaksi terhadap barang-barang murah di media sosial atau e-commerce. 

Masyarakat juga harus lebih berhati-hati kepada siapapun yang menghubungi, apalagi yang hingga meminta scan kode QR atau data, serta menjalankan aplikasi, dan hal-hal lainnya. 

"Karena transaksinya rentan digunakan untuk rekayasa sosial," pungkas Alfons.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved