Tangis Keluarga Korban Bom Samarinda di Sidang Abdurrahman, Ayah Lihat Putrinya Terbakar Saat Sujud
"Setelah itu, orang pada berhamburan. Anak saya engga ada, saya melihat anak saya bersujud di depan gereja, badannya terbakar,"
Adapun pelaku, J (32), yang melemparkan bom molotov berhasil diamankan ketika hendak melarikan diri ke Sungai Mahakam.
Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman yang juga mantan narapidana kasus terorisme didakwa menggerakan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia dalam kurun waktu 2008-2016, termasuk Bom Thamrin 2016.
Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital.
Baca: Nasib Mobil Plat Merah Di Kantor Dishub Kota Bogor, Jadi Pot Tanaman
Oman melakukan hal tersebut setidak tidaknya dalam kurun waktu 2008-2016 di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, Samarinda, Medan, Bima dan Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
Penyebaran paham tersebut diawali dengan ceramah yang disampaikan Oman.
Korban Bom Samarinda Trauma
Anggiat Manumpak Banjarnahor adalah satu dari empat orang tua korban yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) untuk kasus dugaan terorisme Aman Abdurrahman.
Saksi Jekson Sihotang, orang tua dari korban Anita Sihotang (4) dalam kesaksian menceritakan, meski luka bakar pada tubuh anaknya mulai sembuh, tapi kini buah hatinya mengalami trauma psikis hebat akibat ledakan di Gereja Samarinda 1,5 tahun lalu.
Jekson menceritakan, anaknya selalu merasa ketakutan saat mendengar deru mesin atau knalpot sepeda motor.
"Sebelum kejadian (bom Samarinda) kalau saya menyalakkan mesin motor, dia enggak pernah takut. Belakangan, baru panasin sedikit, Anita lari ke dalam rumah," ungkap Jekson.
Selain itu, Jekson menyebut trauma yang dialami anaknya semakin terlihat saat menjelang ada suara ledakan petasan dan kembang api untuk perayaan hari raya.
Anita langsung berteriak keras kala mendengar suara-suara tersebut.
Baca: Lulus SNMPTN Jangan Senang Dulu, Ada 3 Tahapan Lagi yang Mesti Dilakukan
Saksi lainnya, Marsyana Tiur Novita, orang tua dari korban Alfaro Sinaga (5), juga menceritakan dampak bom Samarinda terhadap psikis anaknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/bom-samarinda_20180418_063155.jpg)