Tangis Keluarga Korban Bom Samarinda di Sidang Abdurrahman, Ayah Lihat Putrinya Terbakar Saat Sujud
"Setelah itu, orang pada berhamburan. Anak saya engga ada, saya melihat anak saya bersujud di depan gereja, badannya terbakar,"
Selain Alvaro mengalami luka bakar di kepala dan tangannya, kini anaknya langsung histeris saat mendengar suara ibunya tengah menyalakan kompor maupun suara percikan minyak dari penggorengan.
"Dia kalau lihat saya masak, histeris. Kalau aktivitas, dia biasa (sudah normal)," ujar Marsyana dalam persidangan.
Marsyana tak dapat menahan kesedihannya kala menceritakan kerusakan fisik akibat luka bakar ledakan yang menimpa anaknya serta biaya untuk pengobatannya.
Ia terus menitikkan air mata saat menceritakan anaknya sampai saat ini harus menjalani proses pengobatan akibat ledakan bom di Gereja Oikumene Samarinda pada 1,5 tahun lalu itu.
Alfaro harus melakukan operasi luka bakar di bagian kepala anaknya akibat ledakan bom Samarinda.
"6 bulan kita masih operasi. Anak saya menjalani 28 kali masuk ruang operasi. Enam kali tempel kulit. Terakhir, semua itu bulan 12 (Desember 2017) saya bawa ke Kuala Lumpur karena informasi dari dokter rambut anak saya tidak bisa tumbuh lagi," ucap Marsiana sambil bercucuran air mata.
Marsiana mengungkapkan, saat ini anaknya telah masih harus melakukan operasi tempel kulit di bagian kepala serta tempel rambut lanjutan di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia mengaku saat ini kebingungan untuk membiayai tahapan demi tahapan penyhembuhan anaknya.
"Jujur saya butuh dana. Untuk operasi kedua ada bantuan dan untuk selanjutnya saya masih mencari. Saya harus operasi terakhir ketiga," ucapnya. (Tribun Network/yud/coz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/bom-samarinda_20180418_063155.jpg)