Letusan Gunung Agung Tahun 1963 Dikabarkan Sempat Tewaskan Ribuan Warga, Pengungsi Ini Masih Trauma

Lontaran lava yang sangat panas, menyebabkan kebakaran hutan di sekitar puncak Gunung Agung.

Penulis: Damanhuri | Editor: Vivi Febrianti
Ist
Gunung Agung kembali mengalami erupsi, Senin (2/7/2018) sekitar pukul 06.19 Wita. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sejumlah gunung berapi di Indonesia kini kembali menunjukan aktivitasnya.

Di antaranya yakni Gunung Agung yang kembali meletus setelah tertidur setengah abad lebih.

Pada Senin (2/7/2018) malam, gunung berapi yang berada di daerah Bali itu meletus sehingga membuat warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Agung harus mengungsi untuk menyelamatkan diri.

Bahkan, berdasarkan lporan Badan Geologi, PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Agung yang menyebutkan kolom abu tinggi letusan mencapai ketinggian 2.000 meter atau 2 kilometer dari atas puncak Gunung Agung.

Warga pun dilarang melakukan ativitas di radius 4 kilometer untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Gunung Agung mengalami erupsi ekplosif strombolian disertai lontaran lava dan batu pijar.

Hal ini, membuat hutan di sekitar Puncak Gunung Agung mengalami kebakaran.

Cerita Ditemukannya Nining Korban Hanyut di Pelabuhan Ratu 1,5 Tahun Lalu, Pakaiannya Masih Sama

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, sepengamatan PVMBG lava dan batu pijar terlontar ke segala arah dengan jarak bervariatif mulai dari 500 meter hingga 2000 meter dari kawah Gunung Agung.

Lontaran lava yang sangat panas, menyebabkan kebakaran hutan di sekitar puncak Gunung Agung.

"Dari pukul 06.00 sampai petang kita tidak amati cahaya api atau glow. Itu bukanlah tanda Gunung Agung mulai tenang, justru itu tandanya lapisan dipermukaan mengeras dan jika tidak kuat menahan tekanan di bawah. Maka terjadi letusan strombolian," ungkapnya.

Kondisi inipun diprediksi masih terjadi.

Kedepannya Gunung Agung masih akan mengalami erupsi efusif berupa aliran lava di permukaan dan ekposif berupa lontaran lava dan batu pijar.

"Untuk saat ini kita belum lihat kemungkinan akan munculnya awan panas. Karena amplitudo seismik (kehempaan) tidak mengalami peningkatan berarti. Tapi beberapa hari nanti, mungkim strombolian masih mungkin terjadi disertai dentuman," terang Devy Kamil.

Ia pun meminta masyarkat untuk tidak mencoba-coba lagi mendaki Gunung Agung, selama PVMBG masih menetapkan statusnya di level III atau siaga.

Masyarkat juga tidak boleh ada yang beraktivitas 4 kilometer dari kawah Gunung Agung.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved