Letusan Gunung Agung Tahun 1963 Dikabarkan Sempat Tewaskan Ribuan Warga, Pengungsi Ini Masih Trauma

Lontaran lava yang sangat panas, menyebabkan kebakaran hutan di sekitar puncak Gunung Agung.

Penulis: Damanhuri | Editor: Vivi Febrianti
Ist
Gunung Agung kembali mengalami erupsi, Senin (2/7/2018) sekitar pukul 06.19 Wita. 

Awan letusannya mencapai tinggi lebih kurang 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lebih kurang 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.

Nopember 1963: Tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lebih kurang 500 m di ats puncak. Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.

10 Januari 1964: Tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak.

26 Januari 1964: Pukul 06.50 tampak kepulan asap dari puncak Gunung Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lebih kurang 4.000 m di atas puncak. Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi oleh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.

27 Januari 1964: Kegiatan Gunung Agung berhenti

Korban Meletusnya Gunung Agung

Menurut Suryo (1965, p.22-26) ada 3 sebab gejala yang menyebabkan jatuh korban selama kegiatan Gunung Agung dalam 1963, yakni akibat awan panas, piroklastika dan lahar.

Akibat awan panas meninggal 820 orang, 59 orang luka.

Akibat Piroklastika meninggal 820 orang, luka 201 orang.

Akibat lahar meninggal 165 orang, 36 orang luka.

(TribunnewsBogor.com/Damanhuri)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved