Letusan Gunung Agung Tahun 1963 Dikabarkan Sempat Tewaskan Ribuan Warga, Pengungsi Ini Masih Trauma

Lontaran lava yang sangat panas, menyebabkan kebakaran hutan di sekitar puncak Gunung Agung.

Penulis: Damanhuri | Editor: Vivi Febrianti
Ist
Gunung Agung kembali mengalami erupsi, Senin (2/7/2018) sekitar pukul 06.19 Wita. 

"Gunung ini masih siaga. Masih memiliki kemungkinan erupsi yang tinggi. Letusan seperti ini memang tidak terus terjadi, kadang kita lengah dan tiba-tiba strombolian seperti saat ini," ungkap Devy Kamil.

Tak Hanya Jessica Kopi Sianida, 3 Orang Ini Juga Tega Racuni Sahabatnya Sendiri

Warga Tanah Aron pilih bertahan di pengungsian, Selasa (3/7/2018).
Warga Tanah Aron pilih bertahan di pengungsian, Selasa (3/7/2018). (Tribun Bali/Saiful Rohim)

Sementara itu, Sejumlah warga yang tinggal dilereng Gunung Agung hingga saat ini masih berada di pengungsian.

Sebagian dari mereka masih dibayangi trauma aktivitas Gunung Agung seperti tahun 1963 lalu yang dikabarkan menelan ribuan nyawa usai meletusnya Gunung Agung.

Ni Wayan Krenyet (70) warga asli Tanah Aron mengatakan, warga Tanah Aron yang mengungsi ke Bale Gedung Serba Guna sekitr 15 KK (Kepala Keluarga).

Menurutnya pengungsi asal Tanah Aron, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebendem, Karangasem masih bertahan di Bale Gedung Serba Guna Bebandem, Kecamatan Bebandem, warga sampai di Bale Gedung Serba Guna sekitar pukul 22.00 wita karena khawatir dengan lontaran lava pijar.

17 Bulan Dikabarkan Hilang Diseret Ombak Pelabuhan Ratu, Dokter Heran Riwayat Penyakit Nining Hilang

"Untuk sementara kita tinggal di sini (Bale Serba Guna) dulu, hingga kondisi baik. Semoga nanti malam kondisi Gunung Agung kembali normal seperti sebelumnya,"harap Wayan Krenyet ditemui di Gedung Serba Guna mengutip Tribun Bali, Selasa (3/7/2018) sekitar pukul 08.15 wita.

Sementara itu, Kadek Sutrisna menambahkan, warga Tanah Aron yang ngungsi ke Bal Serba Guna sebanyak 50 orang.

Namun, sebagian dari mereka telah kembali ke rumahnya untuk kembali berkativitas seperti biasa.

"Warga yang bertahan sekitar 25 orang,"tambah Sutrisna.

Menurutnya, saat ini sebagian warga masih dibayangi trauma kejadian letusan Gunung Agung pada tahun 1963 lalu.

"Warga yang masih berada di pengungsian trauma dengan kejadian 1963. Mereka takut. Seandainya nanti malam kondisi mebaik, kemungkinan kita semua pulang,"akui Sutrisna didampingi Ni Nyoman Krenyet.

Mengutip WartaKotalive.com yang tayang 14 September 2017, Gunung Agung merupakan sebuah gunung vulkanik tipe monoconic strato yang tingginya mencapai sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut.

Gunung tertinggi di Bali ini termasuk muda dan terakhir meletus pada tahun 1963 setelah mengalami tidur panjang selama 120 tahun.

Lama letusan Gunung Agung tahun 1963 berlangsung hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Februari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964, dengan kronologinya sebagai berikut:

16 Februari 1963: terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yehkori (lebih kurang 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved