Pilpres 2019

Hakim MK Umumkan Putusan Sidang Sehari Lebih Cepat, Refly Harun : Bad News Untuk Prabowo-Sandi

Refly Harun meyakini kalau para hakim MK sudah memutuskan hasil sidang pada Rapat Permusyawaratan Hakim ( RPH) pada Senin kemarin.

Hakim MK Umumkan Putusan Sidang Sehari Lebih Cepat, Refly Harun : Bad News Untuk Prabowo-Sandi
Kompas.com
Ketua Tim Hukum pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto (berdiri-kanan) terlihat berdiskusi dengan anggota tim hukum Denny Indrayana di sidang perdana sengketa pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (14/6/2019).(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO) 

Refly Harun pun menduga, dilihat dari pengalaman saat dirinya di MK, kalau proses putusan di RPH tidak terlalu kencang perdebatan yang terjadi.

Tolak Dalil Prabowo-Sandiaga soal Ajakan Berbaju Putih, MK : 02 Juga Lakukan Hal Sama

Kuasa Hukum 02 Optimis Gugatan Dikabulkan MK, Bambang Widjojanto : Banyakin Doa Saja

Tak Mungkin Puaskan Semua Pihak, Ketua MK : Jangan Dijadikan Ajang Saling Hujat dan Fitnah

"Kalo lihat pengalaman di MK dispute -nya (perdebatan) tak teralu kencang, Untuk itu hakim bisa mencapai sebuah kesepakatan yang cepat," ucapnya.

Lantas, host acara Mata Najwa, Najwa Shihab bertanya apakah hal itu menguntungkan tim hukum pemohon atau tidak.

Refly Harun pun menjawab kalau hal itu merupakan kabar buruk bagi tim BPN.

"Kalau bagi pemohon saya kira bad news, saya gak bilang kalah. makanya saya bilang apapun hari ini yang kita perdebatkan tidak akan merubah apapun," ucapnya.

Refly Harun menjelaskan, dalam sengketa pilpres yang paling enak adalah pihak terkait, dalam hal ini kubu Jokowi-Maruf Amin.

Sebaliknya, justru pihak yang tak menguntungkan adalah pihak BPN.

"Pak Yusril tinggal duduk dan menyesuaikan kira 2 serangan dari pemohon. Yang tidak terlalu enak pihak pemohon karena dipaksa membuktikan alat bukit yang tak masuk akal.

Sejumlah saksi dari pihak pemohon kembali ke ruangang saksi setelah diambil sumpahnya saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari pihak pemohon.(ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)
Sejumlah saksi dari pihak pemohon kembali ke ruangang saksi setelah diambil sumpahnya saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari pihak pemohon.(ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A) (Kompas.com)

Yang paling sulit adlah pemohon, krna pemohon ini ingin mendalilkan hal yang besar, Satu hal yang sifatnya kuantitatif, dia mengatakan menang 52 persen. kira-kira saat akhir sidang muncul gak angka itu," ucap Refly Harun.

Ia memaparkan, bila paradigma dalam proses putusan tersebut adalah itung-itungan, maka sudah dipastikan usaha tim BPN sudah berakhir.

Halaman
123
Penulis: yudhi Maulana
Editor: Vivi Febrianti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved