Donald Trump Lolos dari Pemakzulan dan Tetap Jadi Presiden AS, Ketua DPR AS: Dia Jadi Ancaman

perbandingan suaranya adalah 53-47, membuat Donald Trump lolos dari pemakzulan pada Kamis (5/2/2020).

Editor: Yuyun Hikmatul Uyun
Google images
Donald Trump dan pengawal 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Ketua DPR AS Nancy Pelosi menyatakan, Presiden Donald Trump tetap akan menjadi ancaman demokrasi Amerika Serikat setelah Senat AS meloloskannya dari pemakzulan.

Dua pasal impeachment yang disangkakan, penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan Kongres, tidak mendapat dua pertiga dukungan untuk aktif.

Untuk pasal pertama, hanya 48 anggota Senat AS yang mendukung, di mana Senator Republik, Mitt Romney, membelot dengan mendukung Demokrat.

Sementara pada pasal menghalangi penyelidikan Kongres, perbandingan suaranya adalah 53-47, membuat Donald Trump lolos dari pemakzulan pada Kamis (5/2/2020).

Seusai putusan, Nancy Pelosi mengatakan bahwa Senator Republik telah memaklumi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh presiden 73 tahun itu.

Markas Pasukan AS Dihantam Iran Pakai Rudal, Donald Trump : All Is Well !

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini : Sejelek Apa Pun, Saya Ciptaan Tuhan

Rakercab 2020, HIPMI Kota Bogor Siap Bangun Daya Saing Dunia Usaha Hadapi Persaingan Global

Dilansir AFP, Ketua DPR AS dari Partai Demokrat itu menyebut kaum Republikan sudah menolak sistem check and balances di Konstitusi AS.

"Dia akan tetap menjadi ancaman bagi demokrasi Amerika. Dia akan menganggap dirinya di atas hukum dan mengubah hasil pemilihan sesuai keinginannya," katanya.

Sementara dikutip Al Jazeera, Pelosi mengatakan bahwa Senat tidak bisa membebaskan tanpa sebelumnya didasarkan bukti dan saksi yang kuat.

ketua DPR AS

Ketua House of Representatives (DPR AS) Nancy Pelosi merobek dokumen pidato kenegaraan (State of the Union) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam sesi gabungan Kongres AS di Capitol Hill, Washington, pada 4 Februari 2020.(REUTERS/JONATHAN ERNST)

Dia mengeluhkan Senat AS yang dikuasai Republik menolak upaya Demokrat menghadirkan saksi baru.

Salah satunya mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton.

"Dengan menekan bukti dan menolak sidang yang adil, Republikan di Senat secara sadar mau dan terlibat dalam upaya menutupi aksi Presiden," kritiknya.

Sirkuit Mandalika Disebut Lintasan Balap dengan Pemandangan Terindah di Dunia

Aksi Penggrebekan PSK Tuai Polemik, Fadli Zon Sebut Langkah Andre Rosiade Sesuai Koridor

Sejatinya, sejumlah senator Republik, salah satunya adalah Lamar Alexander, menyatakan bahwa apa yang dilakukan Trump adalah salah.

Namun, mereka berargumen bahwa tindakannya tidak cukup jika dijadikan pijakan untuk melengserkannya dari jabatan Presiden AS

Mereka mempersilakan publik AS untuk memutuskan nasib Trump ke depannya melalui Pilpres AS 2020 yang akan digelar pada November mendatang.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved