Breaking News:

Kebun Raya Bogor

Tetap Jaga Konservasi, Kebun Raya Bogor Siapkan Glow, Peneliti IPB : Daya Tarik Mengenal Sejarah

KRB lebih fokus melakukan riset dan konservasi tumbuhan, pengelolaan infratsruktur di Kebun Raya dilakukan oleh Kedeputian Bidang Infrastruktur BRIN.

istimewa/Kebun Raya Bogor
Pengunjung mengenal koleksi anggrek di Kebun Raya Bogor. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Di usia yang ke 204 tahun, Kebun Raya Bogor (KRB) terus berbenah.

Kepala Kantor Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Sukma Surya Kusumah mengatakan saat ini, Kebun Raya menopang lima fungsi terdiri dari konservasi, penelitian, pendidikan lingkungan, wisata dan jasa lingkungan tetap dijalankan dan saling bersinergi satu dengan yang lainnya.

Sukma menambahkan setelah LIPI bertransformasi menjadi BRIN, terjadi penataan organisasi di dalamnya termasuk Kebun Raya Bogor.

Di usia ke 204 tahun Kebun Raya Bogor memiliki koleksi tumbuhan sekitar 222 suku (famili), 1.257 Marga, 3.423 jumlah spesies dan 13.684 spesimen, Kebun Raya Bogor telah menjadi tujuan wisata bagi banyak wisatawan Indonesia dan dunia.

Kata dia, saat ini lebih fokus melakukan riset dan konservasi tumbuhan, pengelolaan infratsruktur di Kebun Raya dilakukan oleh Kedeputian Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN.

Sedangkan fungsi eduwisata dikerjasamakan dengan pihak swasta dengan harapan dapat lebih mengoptimalkan potensi yang ada.

Terkait penyelenggaraan Glow, tim peneliti flora dan fauna BRIN sudah mulai melakukan kajian untuk meminialisir dampak penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Kami sudah menginventarisasi jenis flora apa saja yang ada di area Glow untuk kemudian dimonitor”, ujarnya.

Baca juga: Mengulik Kebun Raya Bogor Di Usia 204 Tahun, Tetap Setia Jaga Konservasi hingga Inovasi Eduwisata

Secara terpisah,  Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB University Hefni Effendi, menilai bahwa inovasi edukasi konservasi dalam program Glow dapat menjadi daya tarik kaum milenial untuk datang dan mengenal sejarah, budaya dan kekayaan koleksi Kebun Raya Bogor.

“Khusus untuk Kebun Raya Bogor sebaiknya tetap dilakukan kajian selama penyelenggaraan Glow, untuk mitigasinya sementara dapat dilakukan melalui studi referensi publikasi ilmiah atau jurnal-jurnal”, ujar Hefni Effendi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved