Ini Sederet Kontroversi yang Sempat Dilakukan Arteria Dahlan

Belum lama ini, politisi PDI-Perjuangan itu meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mencopot seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati).

Editor: Yudistira Wanne
Youtube channel metrotvnews
Momen anggota komisi III DPR RI, Arteria Dahlan menanggapi penolakan Komnas HAM atas hukuman mati Herry Wirawan 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan kembali menjadi sorotan publik.

Belum lama ini, politisi PDI-Perjuangan itu meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mencopot seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) yang berbicara bahasa Sunda dalam rapat.

"Ada kritik sedikit Pak JA, ada Kajati Pak dalam rapat, dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti Pak itu," kata Arteria dalam rapat kerja Komisi III DPR dengan Kejagung, Senin (17/1/2022).

"Kita ini Indonesia, Pak. Nanti orang takut, kalau pakai bahasa Sunda ini orang takut, ngomong apa, sebagainya. Kami mohon yang seperti ini dilakukan tindakan tegas," tambahnya.

Pernyataan ini pun mendapat respons dari banyak kalangan, tak terkecuali Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menuntut Arteria meminta maaf kepada masyarakat Sunda.

Baca juga: JPP Kota Bogor Dukung Sikap Emil Soal Ucapan Arteria Dahlan Tentang Kajati yang Gunakan Bahasa Sunda

Profil Arteria Dahlan

Nama: Arteria Dahlan
Lahir: 7 Juli 1975 (umur 46)
Fraksi: PDI-Perjuangan
Daerah pemilihan: Jawa Timur VI
Jabatan: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Mulai menjabat : 23 Maret 2015
Ayah: Zaini Dahlan
Ibu : Wasniar
Almamater Kampus: Universitas Trisakti Universitas Indonesia
Pekerjaan: Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pengacara

Insiden ini menambah catatan panjang kontroversi yang pernah dilakukan oleh Arteria Dahlan.

Arteria Dahlan
Arteria Dahlan (Tribunnews.com)

1. Protes tak dipanggil "Yang Terhormat"

Pada 2017, Arteria melayangkan protes kepada Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) karena tidak dipanggil "Yang Terhormat" dalam rapat kerja Komisi III DPR dengan pimpinan KPK.

Padahal, sepanjang pimpinan KPK menjawab pertanyaan dan memaparkan hasil kerja, Arteria menunggu-nunggu dipanggil "Yang Terhormat".

"Ini mohon maaf ya, saya kok enggak merasa ada suasana kebangsaan di sini. Sejak tadi saya tidak mendengar kelima pimpinan KPK memanggil anggota DPR dengan sebutan 'Yang Terhormat'," kata Arteria.

Ia menuturkan, pimpinan KPK seharusnya memanggil anggota DPR dengan sebutan "Yang Terhormat", seperti yang dilakukan Kapolri dan Presiden Joko Widodo.

2. Melontarkan umpatan kasar kepada Kemenag

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved