Kontroversi Patung Dewi Kencana, Budayawan Puncak Bogor Sebut Pakis Hills Tak Hargai Kearifan Lokal

Selain aspek psikologis, Yudi juga menyoroti sosok Dewi Kencana atau Ratu Kencono Wungu yang merupakan Putri Kerajaan Majapahit.

|
Penulis: Wahyu Topami | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Wahyu Topami
Patung Dewi Kencana di Pakis Hills Puncak Bogor, Rabu (24/4/2024). 

Laporan wartawan TribunnewsBogor.com Wahyu Topami

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Patung raksasa Dewi Kencana yang berdiri di Kawasan Wisata Pakis Hills, Puncak Bogor, masih menjadi polemik, kali ini dari sudut pandang seorang budayawan Puncak Bogor, Yudi Wiguna.

Menurutnya, patung tersebut memiliki posisi yang kurang tepat karena tidak mempertimbangkan aspek psikologis masyarakat Puncak Bogor.

"Sebetulnya kalau dari unsur budaya, hal itu saya anggap biasa, cuma posisinya yang gak tepat. Pada saat mau membuat ini (patung) belum ada musyawarah, kemudian belum mengantongi izin dari pemerintah setempat, lalu tidak memperhatikan budaya, sosial dan politik yang ada karena untuk kawasan Bogor, khususnya puncak masyarakatnya bersifat religius," ujarnya pada TribunnewsBogor.com, Rabu (24/4/2024).

Selain aspek psikologis, Yudi juga menyoroti sosok Dewi Kencana atau Ratu Kencono Wungu yang merupakan Putri Kerajaan Majapahit.

Padahal menurutnya, di wilayah Pakis Hills terdapat banyak petilasan atau tempat yang pernah disinggahi oleh tokoh-tokoh terdahulu suku Sunda, seperti petilasan Munding Wangi, Jaya Raksa, dan Suryakancana, yang berbentuk batu seperti batu Altar, batu Sirap, dan batu Gobang.

“Sementara patung itu Kencono Wungu bagian dari Majapahit, padahal kalau mau mengangkat kearifan lokal, banyak sebenarnya di Pakis Hills sendiri ada petilasan yang sangat luar biasa seperti petilasan Munding Wangi, eyang Jaya Raksa, Eyang Suryakancana. Kenapa itu tidak dijadikan kearifan lokal untuk dijadikan pariwisata,” paparnya.

Dengan berdirinya Patung Dewi Kencana tersebut, Yudi sangat menyayangkan dan secara pribadi menolak adanya patung tersebut.

“Malah ornamen atau patung yang dibuat dari kerajaan Majapahit, sangat menyayangkan hanya demi menarik wisatawan domestik atau mancanegara dengan alasan itu untuk tempat selfie tapi dengan membuat patung seperti itu. Tapi kalau saya sendiri, ya menolak secara jelas karena unsur wilayah kenapa unsur kearifan lokalnya gak digunakan," pungkasnya.

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved