Layanan Eksekutif di Rumah Sakit Pemerintah dan Stigma BPJS

Banyak rumah sakit milik pemerintah yang menciptakan “layanan poli eksekutif”, dimana pasien yang mampu membayar lebih dapat menikmati kenyamanan.

Tayang:
shutterstock
Ilustrasi - BPJS Kesehatan dirancang sebagai solusi jaminan kesehatan nasional yang inklusif, mencakup seluruh lapisan masyarakat. 

Dimulai dari desain ruangan yang lebih modern, space ruangan yang lebih luas, waktu tunggu yang lebih singkat, dan fasilitas lainnya yang menunjang kenyamanan saat berobat.

Sedangkan pasien reguler dan BPJS terpisah di poli yang tidak sebagus eksekutif.

Faktor jumlah pasien reguler dan BPJS yang menumpuk, seringkali menjadi masalah tambahan. 

Poli terasa lebih sempit dan sesak, AC di dalam ruangan rasanya jadi tidak dingin lagi, banyak pasien tidak kedapatan kursi, hingga suasana jadi tidak kondusif karena setiap orang bicara dan menjalankan aktivitas masing-masing di waktu bersamaan.

Hal-hal pada akhirnya berpengaruh pada pelayanan dan keramahan tenaga medis.

Menghadapi pasien dalam jumlah masif dengan suasana ruangan yang tidak nyaman dan kondusif, tentu bukan hal yang mudah.

Profesionalisme tenaga medis dalam melayani pasien sangat diuji dalam kondisi seperti ini seperti ini.

Oleh karenanya, daripada terus menciptakan jurang pemisah dengan adanya poli eksekutif yang berbiaya tinggi, pemerintah lebih baik memperbaiki sistem secara keseluruhan.

Alih-alih menawarkan layanan yang berbeda berdasarkan kemampuan finansial, mengapa tidak membuat satu jenis layanan yang sama untuk semua?

Uraian Subjektif Mengenai BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan dirancang sebagai solusi jaminan kesehatan nasional yang inklusif, mencakup seluruh lapisan masyarakat.

Namun, pada kenyataannya, masih ada stigma yang melekat bahwa pengguna BPJS seringkali berasal dari latar belakang “kurang mampu”.

Hal ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam implementasi BPJS sebagai program kesehatan untuk semua.

Masyarakat seharusnya melihat BPJS sebagai hak universal yang bisa diakses setiap orang, bukan hanya orang-orang dari kalangan tertentu.

Stigma semacam itu muncul karena berbagai faktor, mulai dari perbedaan fasilitas yang dirasakan antara pasien BPJS dengan pasien reguler, hingga persepsi masyarakat yang mengaitkan BPJS dengan keterbatasan layanan atau kenyamanan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved