Tren Operasi Kelopak Mata Makin Populer, Dokter Ingatkan Risiko Gagal Berkedip, Waspada Komplikasi
Di balik maraknya tren estetika tersebut, dokter spesialis mata mengingatkan ada bahaya serius yang mengintai.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Tren operasi kelopak mata kini semakin populer di tengah masyarakat.
Mulai dari prosedur membuat lipatan mata (double eyelid) hingga tindakan mengencangkan area sekitar mata agar terlihat lebih muda, kini banyak diburu demi menunjang penampilan.
Namun di balik maraknya tren estetika tersebut, dokter spesialis mata mengingatkan ada bahaya serius yang mengintai jika tindakan tersebut dilakukan secara berlebihan.
Dokter Spesialis Mata RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Tri Wahyu, menegaskan bahwa tindakan medis pada kelopak mata seharusnya tidak boleh hanya fokus mengejar penampilan semata.
Menurut dr. Tri, salah satu komplikasi berat yang paling rawan terjadi adalah kondisi di mana kelopak mata tidak bisa menutup secara sempurna setelah operasi akibat ditarik terlalu kencang.
"Kalau nanti kencang banget, realitanya nanti tidak bisa nutup, tidak bisa berkedip sempurna," kata dr. Tri.
Bahaya Mata Terbuka Terus-menerus
Dampak dari kelopak mata yang tidak bisa menutup rapat ini tergolong fatal bagi kesehatan organ penglihatan.
Ketika mata terus-menerus terbuka dalam jangka waktu lama, permukaan bola mata akan kehilangan kelembapannya secara drastis.
Padahal, kelopak mata memiliki fungsi alami yang sangat penting untuk menjaga bola mata agar tetap basah, bersih, dan terlindungi dari paparan luar.
Jika fungsi krusial ini terganggu, pasien berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi medis berikut:
- Mata kering kronis yang memicu rasa tidak nyaman berkepanjangan.
- Iritasi dan nyeri hebat pada area bola mata.
- Keratitis atau peradangan pada kornea mata.
- Infeksi kornea yang berbahaya.
- Gangguan penglihatan permanen atau kebutaan jika tidak segera ditangani.
Dokter Tri membeberkan bahwa banyak pasien yang datang ke klinik mata dengan keinginan besar untuk mempercantik area sekitar mata mereka.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa tidak semua keluhan tersebut membutuhkan tindakan operasi.
Dalam dunia medis, operasi kelopak mata diprioritaskan jika ada gangguan fungsi yang nyata, misalnya kelopak mata yang turun hingga menghalangi pandangan.
Sementara untuk urusan estetika murni, hal tersebut murni merupakan pilihan pribadi pasien dengan catatan harus memahami risiko yang ada.
Lebih lanjut, dr. Tri menjelaskan tantangan terbesar dokter saat ini adalah menghadapi ekspektasi pasien yang sering kali terlalu tinggi.
Banyak pasien membayangkan hasil operasi akan selalu simetris dan tanpa cela, tanpa memikirkan struktur anatomi wajah setiap orang yang berbeda-beda.
"Banyak pasien mengharapkan ketika dioperasi hasilnya 100 persen bagus, 100 persen sempurna, 100 persen estetik dan fungsionalnya ada," ujarnya.
Oleh karena itu, komunikasi dan konsultasi mendalam antara dokter dan pasien sebelum naik ke meja operasi menjadi kunci yang sangat penting.
Pihak dokter spesialis mata menilai bahwa fungsi penglihatan dan nilai estetika memang sulit dipisahkan, namun skala prioritasnya harus tetap jelas.
"Saya sebagai dokter mata akan mendahulukan manfaat atau fungsional dibanding hanya sekadar estetik saja," tegas dr. Tri.
Sumber: Tribunnews.com
| Waspada, Pelat Nomor yang Dimodifikasi Jadi Target Operasi Patuh 2026 yang Dimulai 8 Juni |
|
|---|
| Kondisi Raffi Ahmad Pasca Operasi, Tulis Pesan Menyentuh : Kalau Sehat Jangan Lupa Bersyukur |
|
|---|
| Nadiem Makarim Dioperasi di Rumah Sakit Setelah Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Chromebook |
|
|---|
| Rina Nose Ungkap Alasan Operasi Plastik Hidung dan Mata, Berawal dari Rayuan Dokter Tompi Sejak 2014 |
|
|---|
| Temuan Ladang Ganja di Hutan Pegunungan Papua, Pemilik Kebun Ditangkap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ilustrasi-mata.jpg)