Kisruh Beras Premium di Bekasi, Ini Tanggapan Pakar Ekonomi Pertanian IPB
pedagang membeli beras dengan harga yang lebih mahal dari harga yang diberikan oleh pemerintah melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Penulis: Soewidia Henaldi | Editor: Soewidia Henaldi
"Hitung-hitungan untuk kembali pokok, harga itu harus Rp 12 ribuan. Kalau pedagang atau supermarket mau ambil untung itu minimum Rp 15 ribuan. Pedagang beli di petani beras sebesar Rp 7.500, lalu ada proses pengangkutan ke gudang, kemudian diolah, mungkin semacam pembersihan,” ujarnya.
Dikatakannya, pengolahan pada beras tidak banyak, karena tidak mengalami perubahan fisik.
"Ya paling pencampuran, pengemasan dan packaging. Hanya itu. Biaya pengangkutan hingga pengemasan itu tidak mungkin hanya Rp 2 ribuan. Kalau untuk beras yang levelnya premium apalagi belinya di supermarket ada yang namanya listing fee 30 persen. Maka harga beli di produsen dan supermarket itu mengalami kenaikan dua kali lipat," katanya.
Riset
Prof Firdaus juga memaparkan tentang riset yang sudah dilakukannya sejak tahun 1998 tentang karakteristik beras di 22 pasar eceran di Jakarta.
Beras pandan wangi yang dijual di pasar sebetulnya bukan beras pandan wangi 100 persen, tetapi hanya 40 persen.
Risetnya di Cianjur juga mengungkapkan bahwa semua penggilingan tidak ada yang menjual beras padan wangi 100 persen, karena harganya bisa mencapai Rp 40 ribu per kilogram.
"Tidak mungkin harga beras pandan wangi Rp 15-20 ribu. Itu mungkin kandungan beras pandan wanginya sekitar 20-30 persen. Sisanya mungkin beras Ciherang, karena paling mirip. Tanya pedagang di sana (Pasar Induk Cipinang) itu yang terjadi," ujarnya.
Menurutnya, ini bukan sebuah kebohongan, karena beras tidak mengalami perubahan bentuk, contohnya bubuk kopi.
Saat dijual eceran oleh petani harganya mungkin hanya Rp 3 ribu per kilogram, tapi saat sudah dijual di Starbuck harganya naik tajam.
Apakah bentuk kopinya beda? Apakah ada pembohongan, kan tidak.
Konsumen beras pun sama. Konsumen hanya perlu jaminan keamanan produk.
Mereka mau beli dengan harga mahal karena ada persepsi bahwa beras itu tidak dicampur beras plastik, tidak menggunakan pemutih dan bahan kimia lainnya.
Ini makanya konsumen mau membayar mahal.
"Beras premium menggunakan kemasan yang bagus dan ada semacam jaminan tidak lagsung. Apakah ini pembohongan kepada konsumen. Kalau menurut saya ini bukan pembohongan. Konsumen membayar kualitas, baik fisik maupun karena jaminan informasi. Diolah dengan baik, tidak pecah, tidak pakai pemutih dan dikemas dengan baik. Ya jadilah dia beras premium," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/prof-dr-m-firdaus_20170724_184934.jpg)