Papua Rusuh
Jokowi Curiga Ada Penumpang Gelap saat Kerusuhan Papua, Lukas Enembe Minta Proses Hukum Ditegakkan
Presiden Jokowi menduga ada penumpang gelap yang sengaja menciptakan kekeruhan melalui isu Papua.
Penulis: Soewidia Henaldi | Editor: Soewidia Henaldi
Gubernur melanjutkan, jika tak ada jaminan keamanan dan keadilan bagi warga Papua, pemerintah sudah memiliki opsi yakni akan memulangkan mahasiswa Papua.
“Kalau NKRI ini masih rasis, kami akan Tarik semua mahasiswa. Saya tadi sudah bicara dengan Gubernur Papua Barat untuk mereka datang ke sini dan bicara di sini untuk atur mahasiswa ditaruh di Unipa dan Uncen, kami akan tarik semua, untuk kuliah di Papua,”kata Lukas.
Gubernur juga mengungkapkan, tim terpadu akan segera dibentuk guna diturunkan ke Jawa Timur, Jawa Tengah serta Yogyakarta, untuk memetakan permasalahan yang ada serta mencari solusinya.
Kekerasan yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya mendapatbrespon dari warga Papua, Senin 19 Agustus. Kota Manokwari dan Sorong di Provinsi Papua Barat rusuh. Di Jayapura Papua ribuan massa menggelar aksi demo.
Pemerintah Serius
Gubernur Papua Lukas Enembe mengkritik pernyataan Presiden Joko Widodo soal permasalah di Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu.
Lukas Enembe meminta presiden dan semua pihak lainnya untuk tidak menganggap sepele permasalah rasisme terhadap warga Papua ini.
Hal itu disampaikan oleh Lukas Enembe di depan Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin.
Sontak saja, hal itu membuat Ali Mochtar Ngabalin yang juga merupakan anak Papua harus menyampaikan dengan tegas kepada Lukas Enembe.
Dilansir TribunnewsBogor.com dari Youtube Kompas TV Rabu (21/8/2019), Lukas Enembe juga mengatakan kalau masalah rasisme ini sudah sering terjadi.
"Peristiwa di Jawa Timur ini bukan sekali yang terjadi, sudah banyak sekali terjadi di Jawa Timur, jadi orang Jawa Timur itu selalu rasisme bagi orang Papua, karena sudah terjadi sejak sepakbola Persipura," kata Lukas Enembe dalam acara Sapa Indonesia Malam Selasa (20/8/2019).
Ia pun meminta untuk semua pihak agar tidak lagi bertindak rasis kepada Papua.
"Papua adalah menjaga NKRI dengan keanekaragaman suku, tapi kalau dengan cara diajarkan seperti ini tidak boleh," katanya.
Kemudian, Lukas Enembe juga meminta untuk tidak menyederhakanan masalah yang terjadi di Papua saat ini.
"Tidak bisa sederhanakan masalah Papua tidak boleh mereka sederhanakan, kita kulitnya sudah berbeda, rambutnya sudah berbeda, jangan sederhanakan masalah Papua," kata dia.
• Rusuh di Manokwari dan Sorong, Prabowo Instruksikan Kadernya Damaikan Situasi di Papua
• Bikin Polisi Geram, Begini Kelakuan 5 Pembunuh Gadis yang Jasadnya Tinggal Tulang Saat Rekonstruksi
Untuk itu ia meminta, Presiden dan semua pihak untuk tidak menganggap masalah ini dengan sederhana.
"Jangan sederhanakan masalah Papua, Presiden bicara tidak tegas, Pace Mace itu bahasa kasar bagi Papua, itu bicara di para-para adat, tidak bisa bicara di depan umum meminta maaf seperti itu," keluhnya.
Ia juga mengatakan kalau persoalan rasisme ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan permintaan maaf.
"Jadi Ibu Khofifah sudah sampaikan permohonan maaf, tapi tidak sesederhana itu, masalahnya saja kita belum tahu," katanya.
Tak hanya di Jawa Timur, menurut Lukas Enembe rasisme terhadap Papua juga sering terjadi di Makassar.
"Jadi kejadian seperti ini juga terjadi di Makassar, Pak Jusuf Kalla kasih tahu warganya di Makassar, jadi jangan bicara sederhanakan, kasih tahu juga Pak Ngabalin di situ, mereka serbu juga asrama kita di Makassar," katanya.
Pernyataan Gubernur Papua itu pun memancing Ali Mochtar Ngabalin untuk segera menanggapi.
Ia menjelaskan kalau tak ada yang menganggap kasus ini sepele, apalagi Presiden Jokowi.
"Bapak presiden menyampaikan keprihatinan yang dalam, tidak pernah ada orang yang menganggap kasus ini sepele, eskalasi massa seperti itu dan membicarakan Papua itu dari dulu sampai sekarang, Papua itu tidak ada Republik Indonesia kalau tidak ada Papua, Papua itu adalah tonggak dari republik ini," jelas Ali Mochtar Ngabalin.
• Ini Awal Mula Pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya Hingga Sosok Dalang di Balik Kerusuhan
• Mahasiswa Papua Tolak Kedatangan Risma ke Asrama, Lenis Kagoya Sebut Makan Papeda Bersama
Menurut Ali Mochtar Ngabalin, dirinya sebagai anak Papua mengaku sering bicara dengan Gubernur Sulsel, kapolda dan para wali kotanya.
"Kira orang ini tinggal di Asrama Kamasan Makassar, jadi kita orang kasih tahu bahwa presiden menyampaikan keprihatinan yang dalam, tapi dalam menyikapi masalah secepat itu tentu mengharapkan banyak kepada gubernur, wagub yang merupakan representasi pemerintah pusat yang ada di daerah, kapolda dan panglima," jelas Ali Mochtar Ngabalin.
Ia juga menegaskan kalau masalah rasisme ini tidak boleh dianggap sepele.
Tak hanya itu, ia juga mengaku dulu pernah mendengar kalimat rasis seperti itu saat ia masih kuliah.
"Apapun masalahnya tidak boleh dianggap sepele karena ini adalah rasis, saya juga dulu datang keluar sekolah dari Fak Fak, kalimat-kalimat rasis seperti ini keluar, karena kita orang ini punya pekerjaan buruh di pelabuhan, dari jauh orang bilang kita orang budak-budak, jadi sekarang kita orang sudah kasih tunjuk kalau kita orang ada sekolah, dokter, jadi kalimat rasis seperti ini kita punya rasa yang sama," jelasnya.
Lukas Enembe kemudian menanggapi lagi, ia meminta Ali Mochtar Ngabalin untuk tidak mengatakan hal itu kepada orang Papua.
"Pokoknya saya kasih tahu bung Mochtar, jangan kasih tahu kita, jangan kasih tahu Papua, Papuan menjaga NKRI ini sampai mati, jangan kasih tahu kita, kasih tahu orang Jawa, orang Sumatera, orang Kalimatan," ujarnya.
"Sudah, Sa bicara ini supaya don semua juga dengar juga, kita punya semangat yang sama, Sa bicara ini, pemerintah pusat tidak membiarkan ini terjadi, karena itulah kita mendukung agar pemerintah, untuk segera melakukan deteksi ini cepat, karena aspirasi itu penting," kata Ali Mochtar Ngabalin.(*)(TribunnewsBogor.com/Kompas TV/Kompas.com)