IPB University
Latih Petani, Dosen Sekolah Vokasi IPB University Lakukan Sortasi dan Grading Biji Kopi
produk biji kualitas specialty merupakan produk biji kopi dengan kualitas tinggi yang memanfaatkan buah kopi petik merah sebagai bahan baku.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Dosen-dosen dari Sekolah Vokasi IPB University berikan pelatihan kepada Kelompok Tani Hutan Desa Megamendung, Bogor.
Mereka adalah M Agung Zaim Adzkiya, M Iqbal Nurulhaq, Agief Julio Pratama dan Agung Prayudha Hidayat.
Mereka melatih petani kopi ini untuk melakukan sortasi dan grading biji kopi yang berkualitas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan Dosen Mengabdi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University.
“Desa Megamendung, Bogor memiliki potensi pengembangan industri kopi yang cukup menjanjikan. Ini karena ketinggian tempat, infrastruktur, luas lahan, dan yang paling penting adalah kemauan masyarakat di sekitar kawasan hutan dalam mengelola lahan pertanian,” ujar Agung Zaim.
Ia menambahkan bahwa Desa Megamendung memiliki empat kelompok tani hutan yang aktif mengolah kopi jenis arabika dan robusta.
Kelompok tani hutan ini pada umumnya menjual biji kopi (green bean) ke kafe, roastery maupun pembeli perseorangan yang datang langsung maupun tidak langsung.
“Variasi kopi yang dijual adalah buah kopi (cherry), kopi asalan dan kopi specialty. Namun kebanyakan para kelompok tani ini menjual kopi asalan sehingga peningkatan nilai jual belum maksimal meskipun volume penjualan tinggi,” imbuhnya.
Oleh karenanya, pelatihan yang diberikan merupakan pelatihan sortasi dan grading biji kopi menuju kualitas biji kopi specialty.
“Kami juga memberikan pelatihan menyangrai kopi asli megamendung untuk mendapatkan citarasa yang optimum” ujar Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan, Sekolah Vokasi IPB University ini.
Menurutnya, produk biji kualitas specialty merupakan produk biji kopi dengan kualitas tinggi yang memanfaatkan buah kopi petik merah sebagai bahan baku.
Sementara itu, menurut Muhammad Iqbal Nurulhaq, SP, MSi, Dosen Program Studi Teknologi dan Manajemen Perkebunan, setiap petani perlu memahami cara penyangraian kopi yang tepat dan mengenal cita rasa kopi yang baik.
“Hal tersebut bisa meningkatkan bargaining position dan kepercayaan diri petani untuk menjamin kualitas biji kopi yang dihasilkan. Sehingga komplain negatif dari pasar tidak selamanya ditempatkan pada para petani dan pengolah kopi (processor),” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selama pelatihan peserta diberikan materi maupun praktik sortasi menggunakan Standar Nasional Indonesia Biji Kopi (SNI-2907-2008) dan Standar Internasional Specialty Coffee Association of America (SCAA).
“Praktik teknik menyangrai kopi menggunakan mesin sangrai yang terkoneksi ke komputer untuk analisis data penyangraian. Berbagai teknik penyangraian juga diberikan kepada peserta,” imbuhnya.