Viral! Sebut Ambulans Disembunyikan, Keluarga Pasien Ngamuk di RSUD Leuwiliang, Begini Respon RS

Beredar sebuah video yang menunjukan keluarga pasien mengamuk di lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang.

Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Yudistira Wanne
Istimewa
Momen keluarga pasien mengamuk di lobi IGD RSUD Leuwiliang karena mengaku tidak mendapat pelayanan ambulans (istimewa) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, LEUWILIANG - Beredar sebuah video yang menunjukan keluarga pasien mengamuk di lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Dari unggahan akun Tiktok @Selvi Damayanti, keributan itu dipicu lantaran keluarga pasien tak terima karena tidak mendapat pelayanan ambulans dari rumah sakit.

Bahkan, dari unggahannya itu pihak RSUD Leuwiliang terkesan menyembunyikan ambulansnya.

"Mana ada rumah sakit ketika pasien koma membutuhkan ambulan lalu mobil itu diumpetin? Ya, itu cuma RSUD Leuwiliang aja," caption unggahan akun Tiktok @Selvi Damayanti.

Ia menambahkan, saat itu kakaknya dalam kondisi koma dan membutuhkan banyak darah sehingga sangat membutuhkan pertolongan.

"Pas membutuhkan ambulan malah diumpetin di gudang rumah sakit," katanya.

Jawaban RSUD Leuwiliang

Merespon hal itu, Managemen RSUD Leuwiliang pun buka suara.

Melalui keterangan resminya, Direktur RSUD Leuwiliang, dr. Vitrie Winastri memaparkan, pasien diantar oleh satu orang temannya pasca kecelakaan lalu lintas mendatangi RSUD Leuwiliang pada Kamis (9/11/2023).

Pasien diterima oleh petugas IGD dalam keadaan sadar dan dapat berkomunikasi, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh dokter, mendapatkan terapi, dilakukan pembersihan luka, merawat luka, memasang spalk pada kaki kiri, memberikan suntikan obat penghilang nyeri. 

Kemudian, pasien dapat dirawat di RSUD Leuwiliang untuk kondisi patah kakinya dan jika setelah pemeriksaan lanjutan dibutuhkan dokter spesialis bedah syaraf, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf, karena RSUD Leuwiliang belum memiliki dokter spesialis bedah saraf.

"Kemudian keluarga pasien datang yaitu orang tua pasien dan dokter memberikan edukasi kembali, tetapi mengatakan tetap menunggu suami pasien datang," ujar dr. Vitrie Winastri, Sabtu (11/11/2023).

Setelah sang suami datang, kata dia, diberikan edukasi kembali oleh dokter tentang kondisi pasien sesuai penjelasan di atas. 

"Ketika dijelaskan prosedur rujukan, keluarga ingin langsung membawa pasien ke rumah sakit lain dengan kendaraan sendiri," katanya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved