Curhat Pedagang Tempe Kota Bogor, Dilema Saat Rupiah Melemah, Tercekik Harga Kedelai dan Plastik

Ada dua modal usaha pembuatan tempe yang kini membengkak. Yaitu kedelai bahan baku pembuatan tempe dan plastik pembungkus.

Tayang:
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Tsaniyah Faidah
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
HARGA TEMPE - Pedagang tempe di Pasar Jambu Dua, Kota Bogor. Pedagang tempe di Kota Bogor kini tengah tercekik kenaikan modal usaha mereka karena harga bahan baku yang naik, Rabu (20/5/2026). 

Hal yang sama juga dirasakan oleh pedagang tempe lain di Pasar Jambu Dua, Mustarom (49).

Dia mengaku karena harga kedelai dan plastik naik, dia sedikit mengurangi ukuran tempe agar bisa dapat untung meski kecil, karena dia tak bisa sembarang menaikan harga.

"Paling saya dikecilin ukurannya dikit, itu juga untungnya kecil, karena kedelai naik terus, tiap hari malah naiknya. Plastik juga udah pada naik," kata Mustarom.

Mustarom juga mencoba menggunakan bungkus daun pisang untuk sebagian tempe yang dia jual, menggantikan plastik.

Namun menurutnya, tetap saja sulit menekan modal yang membengkak, karena per gulung daun pisang dijual Rp10.000 yang hanya cukup untuk membungkus beberapa geblek (papan) tempe saja.

"Modal beli plastik saya biasanya Rp30.000, sekarang udah lebih dari Rp50.000," katanya.

"Kalau pakai daun lebih mahal malah, paling daun Rp10.000 dapat berapa biji (bungkus), sama aja," imbuh Mustarom.

Mustarom pun berharap solusi dari pemerintah agar usaha tempe yang sudah dia jalankan selama 23 tahun ini tetap bertahan.

"Bingung mas, pedagang tempe susah, mau protes juga susah, serba salah," kata Mustarom.

Pedagang tempe mengaku bahwa agar mereka bisa dapat untung normal memang dengan cara menaikan harga jual tempe.

Namun menaikan harga tempe bisa jadi jebakan jika kenaikan harga jual tempe di pasar tidak serentak di semua pedagang.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved