Gempa di Donggala
Pengungsi Palu Harus Setor KTP dan KK Demi Bisa Ambil Minum, Kader Demokrat Geram: Tak Ada Alasan!
Ferdinand Hutahaean, selaku kader Demokrat merasa geram dengan kabar pengungsi yang harus setor KTP dan KK saat hendak ambil air minum.
Penulis: Uyun | Editor: Vivi Febrianti
Diceritakan Hartini selaku pengungsi, Rumah Hartini di Kampung Petobo yang tertelan lumpur hingga 10 meter tapi dia tetap diwajibkan membawa KK dan KTP untuk syarat mengambil air menjadikannya miris dan kecewa terhadap pemerintah.
"Rumah saya di Petobo dan semua orang tahu di kampung kami terkena tsunami lumpur dan tanah, rumah kami terkubur, masa masih minta KTP," lanjut Hartini menceritakan nasibnya pasca tsunami menerjang perkampungannya.
Hartini dan suami, Bernat (50) bersama empat anak hanya selamatkan pakaian di badan, akibat lumpur yang tiba-tiba keluar dari dalam tanah usai gempa.
Curhatan miris Hartini juga dialami oleh warga pengungsi lainnya.
Dalam unggahan Rabbani Herba, seorang penguungsi menuliskan perihal syarat KTP dan KK ini justru mencekiknya.
"Pulang aja kamorang (kalian). Kami tak punya KTP dan KK utk ambil sembako.
GALI AJA RUMAHKU! (yg sudah ditenggelamkan gempa dan tsunami)."

Selain susahnya mendapat air mineral, para pengungsi juga berharap bantuan berupa beras, popok bayi, obat-obatan, dan pakaian setidaknya diadakan.
Diketahui, selama para pengungsi di Lapangan Watulemo belum juga melihat wali kota, wakil wali kota dan Gubernur Sulteng mengunjungan pengungsi.
Kata salah satu pengungsi, setidaknya kepala daerah dan pemerintahan di Palu dan Sulteng bisa mendengarkan keluhan para pengungsi usai bencana ini.