Marak Jual Beli Data Pribadi Nasabah Kartu Kredit, Dari Gaji Hingga Nama Orangtua

Ia mengklaim seluruh data itu merupakan data pribadi nasabah yang mengajukan aplikasi kartu kredit salah satu bank swasta tahun 2017-2018.

Marak Jual Beli Data Pribadi Nasabah Kartu Kredit, Dari Gaji Hingga Nama Orangtua
KOMPAS/DOKUMENTASI
Keterangan penghasilan berupa slip gaji, dan rekening koran, menjadi beberapa persyaratan mengajukan kartu kredit ke bank. Oleh sebagian kalangan tenaga pemasaran, data terkait penghasilan dan rekening tabungan itu potensial diperjualbelikan untuk kepentingan pemasaran produk perbankan. 

Selain dapat Rp 1 juta untuk 50 data pribadi yang dijual, ada juga komisi Rp 200.000 untuk kartu kredit jenis gold dan Rp 400.000 untuk jenis platinum yang disetujui bank.

Selain itu JS mengatakan, jika datanya bagus, dari 50 ada peluang 30-40 orang di dalamnya bersedia mengajukan permohonan kartu kredit jenis platinum.

Total komisi yang bisa diraup JS dan anak buahnya pun bisa mencapai Rp 12 juta hingga Rp 16 juta.

JS mengaku memang tidak setiap saat data bagus itu tersedia.

Ia pun mengaku hanya membeli data pribadi jika ia terdesak harus memenuhi target aplikasi kartu kredit.

Tak hanya itu, JS juga mengungkapkan data diri nasabah bisa dijual berkali-kali ke sejumlah pihak.

Data ini disebut data sampah. Muaranya diperjualbelikan via online.

“Itu data (pribadi) yang dijual di online sudah dijual berkali-kali, makanya murah. Datanya sudah dijual ke bank A, kemudian ke bank B (untuk kebutuhan tele- marketing). Orang kan butuh data, butuh penuhi target. Makanya ada jual beli data,” katanya.

Penelusuran Kompas, jual beli data di daring mudah sekali dijumpai di pasar hingga situs daring.

Setiap data yang dijual sangat murah, mulai dari Rp 0,1 hingga Rp 16 per data.

Halaman
1234
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved