Breaking News

Keluhkan Program MBG, Petani Timun: Katanya Meningkatkan Ekonomi, Tapi Harga Timun Tetap Menderita

Di tengah anjloknya harga timun hingga Rp 500 per kilogram, petani di Kabupaten Jember menilai program MBG belum memberi dampak nyata bagi petani.

Tayang:
Editor: Vivi Febrianti
Ist
Jumantoro, petani di Kabupaten Jember tengah memanen timun di lahannya. Ia mengeluhkan harga timun yang anjlok saat panen.(Dok. Jumantoro ) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Di tengah anjloknya harga timun hingga Rp 500 per kilogram, petani di Kabupaten Jember menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberi dampak nyata bagi petani lokal.

Padahal, pemerintah selama ini menyebut keberadaan dapur MBG dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyerapan hasil pertanian masyarakat.

Namun, petani mengaku belum merasakan manfaat tersebut ketika harga komoditas hortikultura justru terjun bebas.

Petani timun asal Jember, Jumantoro, mengatakan hingga kini hasil panen petani belum terserap langsung oleh dapur-dapur MBG yang beroperasi di Jember.

Menurut dia, jika program tersebut benar-benar melibatkan petani lokal, sebagian hasil panen yang saat ini melimpah seharusnya dapat diserap untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Katanya (MBG) meningkatkan ekonomi petani. Tetapi hari ini harga timun tetap menderita. Artinya petani belum merasakan dampaknya,” kata Jumantoro, Kamis (11/6/2026).

Ia menduga sebagian kebutuhan bahan MBG masih diperoleh SPPG melalui pasar atau pihak ketiga, sehingga petani tidak merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

Jumantoro berharap, pengelola dapur MBG dapat membeli kebutuhan sayuran langsung dari kelompok tani atau petani setempat. 

Dengan pola tersebut, tambahnya, tidak hanya memberi kepastian pasar bagi petani, tetapi juga dapat membantu menstabilkan harga saat terjadi kelebihan pasokan komoditas tertentu.

“Harapan kami yang punya dapur MBG belilah ke petani langsung sehingga harganya lumayan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang diharapkan menjadi penghubung antara petani dan berbagai program pemerintah.

Namun sejauh ini, menurut dia, dampaknya terhadap pemasaran hasil panen petani belum terasa.

“Katanya ada koperasi merah putih, ada dapur MBG untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan. Tetapi petani hari ini masih kesulitan menjual hasil panennya,” keluhnya.

Keluhan itu muncul di tengah merosotnya harga timun di tingkat petani yang dalam hampir satu bulan terakhir hanya berkisar Rp 500 hingga Rp 1.000 per kilogram. 

Padahal, menurut Jumantoro, produksi timun di Jember sedang melimpah akibat banyak petani beralih menanam hortikultura setelah memperkirakan musim kemarau akan berlangsung lebih panjang. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved