Keluhkan Program MBG, Petani Timun: Katanya Meningkatkan Ekonomi, Tapi Harga Timun Tetap Menderita

Di tengah anjloknya harga timun hingga Rp 500 per kilogram, petani di Kabupaten Jember menilai program MBG belum memberi dampak nyata bagi petani.

Tayang:
Editor: Vivi Febrianti
Ist
Jumantoro, petani di Kabupaten Jember tengah memanen timun di lahannya. Ia mengeluhkan harga timun yang anjlok saat panen.(Dok. Jumantoro ) 

Namun kondisi cuaca yang masih sering turun hujan membuat produksi meningkat hampir bersamaan di berbagai daerah sehingga harga jatuh.

Sebagai bentuk protes, Jumantoro bersama sejumlah petani pada Rabu (10/6/2026) membagikan dua kuintal timun gratis di depan Kantor Pemkab Jember dan Gedung DPRD Jember.

Aksi tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa melimpahnya hasil panen tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.

Di sisi lain, petani juga harus menghadapi biaya produksi yang terus meningkat.

Jumantoro menyebut harga pupuk nonsubsidi naik hingga dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir, sementara harga pestisida meningkat sekitar 20 hingga 30 persen. 

Menurut dia, kenaikan nilai tukar dollar Amerika Serikat ikut memengaruhi harga berbagai sarana produksi pertanian karena sebagian bahan baku masih bergantung pada impor.

“Petani mungkin tidak tahu kurs dollar berapa, tetapi dampaknya sangat terasa. Pupuk naik, pestisida naik, semua ikut naik,” kata Jumantoro.

Ia berharap pemerintah tidak hanya membantu petani saat produksi menurun, tetapi juga hadir ketika harga hasil panen jatuh dan biaya produksi terus membengkak.

“Waktu tanam petani ikut dollar, tetapi saat panen ikut rupiah. Itu yang hari ini dirasakan petani,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan keyakinannya bahwa dampak ekonomi program MBG akan semakin besar seiring bertambahnya jumlah SPPG yang beroperasi di Jember.

Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk program MBG berpotensi membuka pasar yang lebih luas bagi produk pertanian lokal. 

Salah satunya seperti jeruk lokal Semboro yang juga mulai merasakan dampak dengan kestabilan harga.

Fawait menilai keberadaan ratusan dapur SPPG yang ditargetkan beroperasi di Jember akan semakin memperbesar kebutuhan bahan pangan lokal.

Harapannya akan semakin banyak komoditas pertanian daerah yang dapat masuk ke dalam rantai pasok program tersebut.

Saat ini, sebanyak 209 SPPG yang telah beroperasi di Jember.

Ia memperkirakan sekitar 400 dapur MBG nantinya dapat beroperasi di Jember. 

"Kami yakin produk petani dan UMKM lokal akan terserap dengan harga stabil sehingga kesejahteraan petani dan buruh tani bisa meningkat," kata Fawait

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/06/11/150355478/petani-keluhkan-program-mbg-katanya-meningkatkan-ekonomi-hari-ini-timun

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved